take time to realize

Ivan Seidenberg says “Do your best performance, because someone’s watching over you”

Sebuah ungkapan jenius yang sering kali tak disadari oleh kebanyakan orang.

Banyak orang baik yang merasa sedih karena merasa tak diperhatikan oleh orang lain dan bahkan mengeluh mengapa orang jahat lebih beruntung dari dirinya.

Tak sedikit pula orang jahat yang melenggang karena merasa tak ada yang menyadari kejahatannya.

(suatu fenomena kontradiktif yang dekat dengan kehidupan kita)

Lessons for us

Apapun yang kita lakukan (red: good or bad) pasti ada yang sedang mengamati kita,,jika bukan manusia, kita harus tahu bahwa ada Tuhan yang selalu memperhatikan tingkah laku kita,,so, do our best and act like a best man

What Really Matters in Life?

A vacationing American businessman standing on the pier of a quaint coastal fishing village in southern Mexico watched as a small boat with just one young Mexican fisherman pulled into the dock.

Image

Inside the small boat were several large yellowfin tuna.

Enjoying the warmth of the early afternoon sun, the American complimented the Mexican on the quality of his fish.

“How long did it take you to catch them?” the American casually asked.

“Oh, a few hours,” the Mexican fisherman replied.

“Why don’t you stay out longer and catch more fish?” the American businessman then asked.

The Mexican warmly replied, “With this I have more than enough to support my family’s needs.”

The businessman then became serious, “But what do you do with the rest of your time?”

 

Responding with a smile, the Mexican fisherman answered,“I sleep late, play with my children, watch ballgames, and take siesta with my wife.Sometimes in the evenings I take a stroll into the village to see my friends, play the guitar, sing a few songs…

 

The American businessman impatiently interrupted, “Look, I have an MBA from Harvard, and I can help you to be more profitable. You can start by fishing several hours longer every day. You can then sell the extra fish you catch. With the extra money, you can buy a bigger boat. With the additional income that larger boat will bring, before long you can buy a second boat, then a third one, and so on, until you have an entire fleet of fishing boats.”

 

Proud of his own sharp thinking, he excitedly elaborated a grand scheme which could bring even bigger profits,

“Then, instead of selling your catch to a middleman you’ll be able to sell your fish directly to the processor, or even open your own cannery. Eventually, you could control the product, processing and distribution. You could leave this tiny coastal village and move to Mexico City, or possibly even Los Angeles or New York City, where you could even further expand your enterprise.”

Having never thought of such things, the Mexican fisherman asked, “But how long will all this take?”

After a rapid mental calculation, the Harvard MBA pronounced, “Probably about 15-20 years, maybe less if you work really hard.”

“And then what, señor?” asked the fisherman.

“Why, that’s the best part!” answered the businessman with a laugh. “When the time is right, you would sell your company stock to the public and become very rich. You would make millions.”

“Millions? Really? What would I do with it all?” asked the young fisherman in disbelief.

The businessman boasted,

“Then you could happily retire with all the money you’ve made. You could move to a quaint coastal fishing village where you could sleep late, play with your grandchildren, watch ballgames, and take siesta with your wife. You could stroll to the village in the evenings where you could play the guitar and sing with your friends all you want.

Take Time to Think:

Know what really matters in life, and you may find that it is already much closer than you think.

 

Source: http://www.weboflove.org/051230whatmattersinlife#sthash.gnygh22x.dpuf

does LOVE really need a reason?

Image

Lady : Why do you like me? Why do you love me?

Man : I can’t tell the reason, but I really like you.

 

Lady : You can’t even tell me the reason? How can you say you like me?

Man : I really don’t know the reason, but I can prove that I love you.

 

Lady : Proof? No! I want you to tell me the reason. My friend’s boyfriend can tell her why he loves her but not you!

Man : Ok..ok!!! Emm… because you are beautiful, because your voice is sweet, because you are caring, because you are loving, because you are thoughtful, because of your smile, because of your every movements.

 

The lady felt very satisfied with the man’s answer.

Unfortunately, a few days later, the Lady met with an accident and became comma. The Guy then placed a letter by her side, and here is the content:

 

Darling,

Because of your sweet voice that I love you… Now can you talk?

No! Therefore I cannot love you.

Because of your care and concern that I like you.

Now that you cannot show them, therefore I cannot love you.

Because of your smile, because of your every movements that I love you.

Now can you smile? Now can you move?

No, therefore I cannot love you…

If love needs a reason, like now, there is no reason for me to love you anymore.

 Does love need a reason? NO!

 Therefore, I still love you

and LOVE doesn’t need a reason.

 

” Sometimes the best and the most beautiful things in the world cannot be seen, cannot be touched, but can be felt in the heart “

ANALOGI – BATANG POHON

“Mama sedang apa?

Kakak boleh bantu mama?” tanya Riris kepada Mamanya.

“Sini, Kakak bantu mama kumpulkan daun-daun sawo yang bertaburan di tanah ya” jawab Mama lembut.

Sepuluh menit berlalu, teras rumah Riris yang cukup asri tampak bersih dan pepohonan yang tumbuh di teras rumahnya tampak rapid an terawat. Kemudian Mama mengajak Riris duduk santai tidak jauh dari pohon sawo yang cukup rindang.

Sambil memandangi buah-buah sawo kecil yang masih muda, Mama mengajukan pertanyaan pada Riris. “Ris, menurut kamu kalau Mama patahkan batang pohon sawo ini, Sawonya akan sedih atau tidak?” tanya Mama.

“pasti sakit lah Ma” jawab Riris singkat. Jawaban khas anak-anak yang begitu sederhana terlontar dari mulut kecil Riris. “iya sih kemungkinan Pohon sawo kita akan kesakitan”

Mama seolah setuju, namun pertanyaan berikutnya meluncur “Kalau pohon sawonya tidak berbuah, kira-kira sedih ngga ya?”

“Pasti sedihlah Ma, Pohon sawonya tidak akan punya keturunan kalau tidak ada buahnya.” jawab Riris iba.

“Kira-kira lebih sedih kalau ada batang patah atau tidak berbuah?” Mama memberikan pilihan pada Riris.

Dengan berpikir sejenak, Riris dengan berat menjawab “Hmm, kalau harus pilih, Pohon Sawo pasti lebih sedih kalau tidak berbuah….eh ngga tahu deh ma, bingung, karena kalau batangnya patah juga pasti sedih, sakit.” Mama tertawa seraya membelai rambut anak perempuannya

“Keduanya pasti menyakitkan nak, tapi Mama rasa jawaban pertamamu mendekati tepat” “Semua mahluk hidup pasti menginginkan memiliki keturunan, sebagai penerusnya, selain itu setiap mahluk hidup juga memiliki kebanggaan bila hidupnya atau setidaknya bagian hidupnya berguna bagi mahluk hidup lainnya.” Riris mengernyitkan dahinya, nampaknya dia mulai bingung dengan penjelasan Mama. Namun dia tak bergeming, Riris memutuskan untuk tetap mendengarkan penjelasan Mamanya. Ini cukup beralasan, karena Mama Riris yang notabene seorang guru memang memiliki keahlian dalam berbicara, bercerita, dan menjelaskan apapun. She is a really great storyteller. “Bagi sawo caranya memiliki keturunan adalah dengan berbuah. Dan untuk dapat berbuah, Pohon sawo membutuhkan asupan makanan.”

”iya…tumbuhan memerlukan sari-sari makanan untuk dapat melakukan fotosintesis Ma, agar dapat menghasilkan energy.” Karbondioksida + Klorofil + Air + Cahaya Matahari menghasilkan Karbohidrat + Oksigen + Air) Dengan bangga Riris coba menjelaskan proses fotosintesis yang diketahuinya

“Waaa, pintarnya anak mama” Mama memuji Riris yang bergaya bak seorang guru ketika menjelaskan proses fotosintesis. Untuk bakat Riris yang satu ini memang diwarisi dari Mamanya.

“Nah, energy yang dihasilkan dari proses fotosintesis ini akan disalurkan ke seluruh tubuh Pohon Sawo. Sehingga batangnya membesar, daunnya semakin rimbun, akarnya semakin panjang, dan Pohon sawo mampu berbuah” Mama melanjutkan penjelasannya. “Pohon sawo milik kita ini awalnya hanya berdaun rimbun, waktu itu Mama berfikir apa mungkin energinya terlalu banyak disalurkan untuk pertumbuhan daun, batangnya juga semakin tinggi, tapi di usia yang sudah tepat unduk mengeluarkan buah, pohon sawo kita sama sekali tidak member tanda akan berbuah. Tidak ada bunga yang muncul. Jadi waktu itu mama memutuskan untuk mematahkan batang-batang sawo terlalu menjulang dan memangkas daun yang sudah tua.” “Mama bereksperimen melakukan hal serupa setiap seminggu sekali selama 3 bulan. Dan ternyata mulai muncul bunga sawo dan berbuahlah pohon sawo kita ini. Buahnya besar dan manis-manis kan? ”

“Karena eksperimen Mama berhasil, Mama coba ambil pelajaran bahwa mungkin energy yang seharusnya dikeluarkan untuk pertumbuhan batang dan daun menjadi tersalurkan juga untuk pembuahan pohon sawo yang sesungguhnya sangat penting bagi kelangsungan hidup pohon sawo (regenerasi).”

Riris kagum mendengar penjelasan mamanya, padahal dia belum menangkap esensi yang hendak disampaikan mama melalui ilustrasi ceritanya. “Begitu juga dengan kamu Ris ”

Belum selesai mama berbicara Riris memotong pembicaraan Mama “looh, kok jadi aku Ma? Memangnya aku seperti pohon sawo, Memangnya tangan atau kaki aku mau dipatahkan juga supaya bisa punya keturunan? Ngga mau ah ma” tangkis Riris dengan nada tinggi.

“ahhahahahahah bukan itu maksud Mama sayang”jawab mama penuh kelembutan. “Cara mama memperlakukan pohon sawo ini dengan kamu pasti berbeda tapi ada yang bisa kita pelajari dari pohon sawo ini.”

Mama melanjutkan penjelasannya. “Pohon sawo ini kesakitan tiap kali batangnya dipatahkan dan daunnya dipangkas. Kamu juga merasakan hal yang sama ketika Mama marah dan menghukum kamu karena kamu nakal, berbicara kasar, tidak sopan, malas,dan masih banyak sikap yang tidak baik lainnya. Sama seperti batang dan daun sawo yang tumbuh dengan berlebihan akan menghambat pohon sawo berbuah manis, sikap-sikap yang tidak baik juga dapat menghambat kamu tumbuh menjadi gadis dewasa yang baik, pintar, dan berbudi pekerti nak ”

“Dan itu harus dipangkas sedini mungkin, kalau dulu Mama tidak segera memangkas pohon sawo, mungkin sekarang mama kesulitan untuk memangkasnya soerang diri. Persis sama seperti kalau Mama tidak mengajar dan mendidik kamu sedini mungkin tentang hal-hal baik, mama akan kesulitan mendidik kamu saat kamu sudah dewasa nanti. Dan waktu tidak bisa diulang, Mama pasti akan menyesal karena membiarkan kamu tumbuh menjadi anak yang tidak teratur, tidak sopan, dan tidak tahu bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik (red. Hidupmu tidak berbuah manis bagi orang lain disekitarmu) ”

“Nah, sekarang kakak mengerti kan kenapa mama marah kalau kakak nakal, tidak teratur dan tidak disiplin? Semua Mama lakukan karena mama sayang kakak. Mama sayang anak-anak Mama. Mama sayang abang, kakak, adek. Makanya mama peduli dan memang tugas mama sebagai ibu untuk mengajar dan mendidik anak-anak mama menjadi orang yang baik dan berguna, buah dari rasa sakitnya mungkin belum bisa dirasakan sekarang, tapi suatu saat nanti kedisiplinan, sopan santun, semangat, kepedulian yang mama ajarkan akan kalian nikmati buahnya. Kalian akan menjadi orang-orang hebat kelak kalau kalian ingat dan terapkan kata-kata yang mama ajarkan.”

“Menjadi orang pintar tidak cukup hanya pintar secara akademis di sekolah kak, nilai yang bagus cuma satu hal, hal lainnya ada kedisiplinan, sopan santun, semangat, kepedulian, dan takut akan Tuhan. Nah, nilai-nilai pelajaran kalian dapatkan dari sekolah, sedangkan nilai-nilai kehidupan seperti kedisiplinan, sopan santun, semangat, kepedulian akan selalu Mama ajarkan pada kalian seumur hidup Mama”

“Mama yakin, anak-anak mama adalah orang-orang pilihan yang kelak akan menjadi pemimpin yang besar. Apapun pekerjaan kalian, kalian mampu menjadi yang terbaik. Asalkan kalian selalu memberikan yang terbaik dalam setiap hal yang kalian lakukan, daaaaaaaaaan, ingat harus mau dan mampu menjalani setiap proses yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kalian dengan taat. Walau awalnya sakit, menyedihkan dan berat, kadang harus ada yang “dipangkas” agar yang lainnya dapat “tumbuh” subur. Proses kehidupan yang akan kalian jalani pasti bereda-beda, tapi kesamaannya adalah tantangan yang harus kalian hadapi karena diizinkan Tuhan terjadi di dalam kehidupan kalian. Ingat!!! Semua terjadi karena Tuhan ingin kita menghasilkan buah yang manis walaupun itu berarti kalian harus merelakan ada bagian-bagian yang Tuhan pangkas untuk menghasilkan buah manis tersebut.”

“Jadi kalau kelak, kakak merasa sakit menjalani proses kehidupan, ingat cerita Mama hari ini. Ingat “Analogi – Batang Pohon” yang mama ceritakan sore ini. Semua harus dilewati dan dijalanani dengan ikhlas. Belajar merelakan dan melepas karena dengan itu kita belajar menerima sesuatu yang baru yang labih baik. Dan selalu peka! Peka dengan sekitarmu, apapun yang ada disekelilingmu, karena sesungguhnya kamu dapat belajar banyak hal dari mereka. Dan seringkali bahasa terindah Tuhan kepadamu adalah melalui hal-hal kecil yang ada disekitarmu nak”

Mama mengakhiri cerita sambil memeluk Riris. Entah Riris paham atau tidak dengan penjelasan Mama. Namun yang jelas dia memperhatikan betul setiap detail gesture mama ketika menjelaskan sesuatu, ketika menasehatinya.

Mama betul-betul seorang ibu yang penyayang. Ibu yang tegas dalam pemikiran namun lembut dalam tindakan. Mama yang tak berjanji akan selalu mengajar dan mendidik ketiga anaknya agar kelak menjadi manusia terpelajar dan terdidik.

Image

Image

Image

- berdasarkan kisah nyata penulis (RYS)

the Anatomy of Friendship

My mother used to ask me what is the most important part of the body.

Through the years I would take a guess at what I thought was the correct answer.

 

When I was younger, I thought sound was very important to us as humans, so I said, “My ears, Mommy.”

She said, “No. Many people are deaf. But you keep thinking about it and I will ask you again soon.”

 

Several years passed before she asked me again.

Since making my first attempt, I had contemplated the correct answer.

 

So this time I told her, “Mommy, sight is very important to everybody, so it must be our eyes.”

She looked at me and told me, “You are learning fast, but the answer is not correct because there are many people who are blind.”

 

Stumped again, I continued my quest for knowledge and over the years, Mother asked me a couple more times and always her answer was, “No, but you are getting smarter every year, my child.”

 

Then last year, my grandpa died. Everybody was hurt. Everybody was crying. Even my father cried. I remember that especially because it was only the second time I saw him cry. My Mom looked at me when it was our turn to say our final goodbye to Grandpa. She asked me, “Do you know the most important body part yet, my dear?”

 

I was shocked when she asked me this now. I always thought this was a game between her and me. She saw the confusion on my face and told me, “This question is very important.

 

It shows that you have really lived in our life. For every body part you gave me in the past, I have told you were wrong and I have given you an example why. But today is the day you need to learn this important lesson.”

 

She looked down at me as only a mother can. I saw her eyes well up with tears. She said, “My dear, the most important body part is your shoulder.”

I asked, “Is it because it holds up my head?”

She replied, “No, it is because it can hold the head of a friend or a loved one when they cry. Everybody needs a shoulder to cry on sometime in life, my dear. I only hope that you have enough love and friends that you will always have a shoulder to cry on when you need it.”