a boy and little puppy

 

.

alkisah seorang petani mempunyai beberapa anak anjing yang akan di jualnya

.

dia menulis disebuah papan untuk mengiklankan anak-anak anjing tersebut,

dan memakukannya pada tiang di pinggir halamannya

.

ketika dia sedang dalam perjalanan untuk memasangnya,

dia merasakan tarikan pada bajunya

.

dia memandang ke bawah dan bertemu mata dengan seorang anak laki-laki kecil

.

Tuan …” anak itu berkata

saya ingin membeli salah satu anak anjing anda

anak-anak anjing ini berasal dari keturunan yang bagus dan cukup mahal harganya ” ujar sang petani sambil mengusap keringat di lehernya

.

anak itu tertunduk sejenak,

kemudian merogoh ke dalam saku bajunya,

ia menarik segenggam uang receh dan menunjukkannya kepada si petani

.

saya punya tiga puluh sembilan sen, apakah ini cukup untuk melihatnya?

tentu ” kata si petani yang kemudian bersiul ” shiro, kemari! ” panggilnya

.

shiro keluar dari rumah anjingnya dan berlari turun diikuti oleh anak-anaknya

.

si anak laki-laki tersebut menempelkan wajahnya ke pagar,

matanya bersinar-sinar

.

sementara anjing-anjing tersebut berlarian menuju pagar,

perhatian anak laki-laki tersebut beralih pada sesuatu yang bergerak di rumah anjing

.

perlahan keluarlah seekor anak anjing,

lebih kecil dari yang lain,

ia berlari menuruni lereng dan terpeleset,

kemudian dengan terpincang-pincang berlari,

berusaha menyusul yang lain

.

.

aku mau yang itu ” kata si anak sambil menunjuk pada anak anjing kecil yang berada dibelakang

.

sang petani berjongkok disampingnya dan berkata,

nak, kau tidak akan mau anak anjing yang itu, dia tidak akan bisa berlari dan bermain bersamamu seperti yang bisa dilakukan anak-anak anjing lainnya “

.

anak itu melangkah menjauh dari pagar,

meraih ke bawah,

menggulung celana di salah satu kakinya,

memperlihatkan penguat kaki dari logam yang melingkari kakinya hingga sepatu yang di buat khusus untuknya

.

ia memandang sang petani dan berkata,

” anda lihat tuan, saya juga tidak bisa berlari sama seperti anak anjing itu

.

sang petani terdiam

.

.

.

.

.

.

dan aku terdiam

.

seberapa sering aku menilai orang lain dengan standard penilaianku?

seberapa sering aku terluka oleh penilaian orang lain terhadapku? ” tanyaku dalam diam

.

.

aku akan berhenti menilai dan mulai belajar menerima dan mencintai hidup dan kehidupan,

aku akan menjadi sahabat terbaik bagi diriku dengan menerima hidup dan kehidupan yang Tuhan beri padaku seutuhnya ” janjiku dalam diam

.

.

.

** revised Menara Multimedia 27.05.2015 15:52 **

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s