ANALOGI – BATANG POHON

 

“Mama sedang apa?

Kakak boleh bantu mama?” tanya Riris kepada Mamanya.

“Sini, Kakak bantu mama kumpulkan daun-daun sawo yang bertaburan di tanah ya” jawab Mama lembut.

Sepuluh menit berlalu, teras rumah Riris yang cukup asri tampak bersih dan pepohonan yang tumbuh di teras rumahnya tampak rapid an terawat. Kemudian Mama mengajak Riris duduk santai tidak jauh dari pohon sawo yang cukup rindang.

Sambil memandangi buah-buah sawo kecil yang masih muda, Mama mengajukan pertanyaan pada Riris. “Ris, menurut kamu kalau Mama patahkan batang pohon sawo ini, Sawonya akan sedih atau tidak?” tanya Mama.

“pasti sakit lah Ma” jawab Riris singkat. Jawaban khas anak-anak yang begitu sederhana terlontar dari mulut kecil Riris. “iya sih kemungkinan Pohon sawo kita akan kesakitan”

Mama seolah setuju, namun pertanyaan berikutnya meluncur “Kalau pohon sawonya tidak berbuah, kira-kira sedih ngga ya?”

“Pasti sedihlah Ma, Pohon sawonya tidak akan punya keturunan kalau tidak ada buahnya.” jawab Riris iba.

“Kira-kira lebih sedih kalau ada batang patah atau tidak berbuah?” Mama memberikan pilihan pada Riris.

Dengan berpikir sejenak, Riris dengan berat menjawab “Hmm, kalau harus pilih, Pohon Sawo pasti lebih sedih kalau tidak berbuah….eh ngga tahu deh ma, bingung, karena kalau batangnya patah juga pasti sedih, sakit.” Mama tertawa seraya membelai rambut anak perempuannya

“Keduanya pasti menyakitkan nak, tapi Mama rasa jawaban pertamamu mendekati tepat” “Semua mahluk hidup pasti menginginkan memiliki keturunan, sebagai penerusnya, selain itu setiap mahluk hidup juga memiliki kebanggaan bila hidupnya atau setidaknya bagian hidupnya berguna bagi mahluk hidup lainnya.” Riris mengernyitkan dahinya, nampaknya dia mulai bingung dengan penjelasan Mama. Namun dia tak bergeming, Riris memutuskan untuk tetap mendengarkan penjelasan Mamanya. Ini cukup beralasan, karena Mama Riris yang notabene seorang guru memang memiliki keahlian dalam berbicara, bercerita, dan menjelaskan apapun. She is a really great storyteller. “Bagi sawo caranya memiliki keturunan adalah dengan berbuah. Dan untuk dapat berbuah, Pohon sawo membutuhkan asupan makanan.”

”iya…tumbuhan memerlukan sari-sari makanan untuk dapat melakukan fotosintesis Ma, agar dapat menghasilkan energy.” Karbondioksida + Klorofil + Air + Cahaya Matahari menghasilkan Karbohidrat + Oksigen + Air) Dengan bangga Riris coba menjelaskan proses fotosintesis yang diketahuinya

“Waaa, pintarnya anak mama” Mama memuji Riris yang bergaya bak seorang guru ketika menjelaskan proses fotosintesis. Untuk bakat Riris yang satu ini memang diwarisi dari Mamanya.

“Nah, energy yang dihasilkan dari proses fotosintesis ini akan disalurkan ke seluruh tubuh Pohon Sawo. Sehingga batangnya membesar, daunnya semakin rimbun, akarnya semakin panjang, dan Pohon sawo mampu berbuah” Mama melanjutkan penjelasannya. “Pohon sawo milik kita ini awalnya hanya berdaun rimbun, waktu itu Mama berfikir apa mungkin energinya terlalu banyak disalurkan untuk pertumbuhan daun, batangnya juga semakin tinggi, tapi di usia yang sudah tepat unduk mengeluarkan buah, pohon sawo kita sama sekali tidak member tanda akan berbuah. Tidak ada bunga yang muncul. Jadi waktu itu mama memutuskan untuk mematahkan batang-batang sawo terlalu menjulang dan memangkas daun yang sudah tua.” “Mama bereksperimen melakukan hal serupa setiap seminggu sekali selama 3 bulan. Dan ternyata mulai muncul bunga sawo dan berbuahlah pohon sawo kita ini. Buahnya besar dan manis-manis kan? ”

“Karena eksperimen Mama berhasil, Mama coba ambil pelajaran bahwa mungkin energy yang seharusnya dikeluarkan untuk pertumbuhan batang dan daun menjadi tersalurkan juga untuk pembuahan pohon sawo yang sesungguhnya sangat penting bagi kelangsungan hidup pohon sawo (regenerasi).”

Riris kagum mendengar penjelasan mamanya, padahal dia belum menangkap esensi yang hendak disampaikan mama melalui ilustrasi ceritanya. “Begitu juga dengan kamu Ris ”

Belum selesai mama berbicara Riris memotong pembicaraan Mama “looh, kok jadi aku Ma? Memangnya aku seperti pohon sawo, Memangnya tangan atau kaki aku mau dipatahkan juga supaya bisa punya keturunan? Ngga mau ah ma” tangkis Riris dengan nada tinggi.

“ahhahahahahah bukan itu maksud Mama sayang”jawab mama penuh kelembutan. “Cara mama memperlakukan pohon sawo ini dengan kamu pasti berbeda tapi ada yang bisa kita pelajari dari pohon sawo ini.”

Mama melanjutkan penjelasannya. “Pohon sawo ini kesakitan tiap kali batangnya dipatahkan dan daunnya dipangkas. Kamu juga merasakan hal yang sama ketika Mama marah dan menghukum kamu karena kamu nakal, berbicara kasar, tidak sopan, malas,dan masih banyak sikap yang tidak baik lainnya. Sama seperti batang dan daun sawo yang tumbuh dengan berlebihan akan menghambat pohon sawo berbuah manis, sikap-sikap yang tidak baik juga dapat menghambat kamu tumbuh menjadi gadis dewasa yang baik, pintar, dan berbudi pekerti nak ”

“Dan itu harus dipangkas sedini mungkin, kalau dulu Mama tidak segera memangkas pohon sawo, mungkin sekarang mama kesulitan untuk memangkasnya soerang diri. Persis sama seperti kalau Mama tidak mengajar dan mendidik kamu sedini mungkin tentang hal-hal baik, mama akan kesulitan mendidik kamu saat kamu sudah dewasa nanti. Dan waktu tidak bisa diulang, Mama pasti akan menyesal karena membiarkan kamu tumbuh menjadi anak yang tidak teratur, tidak sopan, dan tidak tahu bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik (red. Hidupmu tidak berbuah manis bagi orang lain disekitarmu) ”

“Nah, sekarang kakak mengerti kan kenapa mama marah kalau kakak nakal, tidak teratur dan tidak disiplin? Semua Mama lakukan karena mama sayang kakak. Mama sayang anak-anak Mama. Mama sayang abang, kakak, adek. Makanya mama peduli dan memang tugas mama sebagai ibu untuk mengajar dan mendidik anak-anak mama menjadi orang yang baik dan berguna, buah dari rasa sakitnya mungkin belum bisa dirasakan sekarang, tapi suatu saat nanti kedisiplinan, sopan santun, semangat, kepedulian yang mama ajarkan akan kalian nikmati buahnya. Kalian akan menjadi orang-orang hebat kelak kalau kalian ingat dan terapkan kata-kata yang mama ajarkan.”

“Menjadi orang pintar tidak cukup hanya pintar secara akademis di sekolah kak, nilai yang bagus cuma satu hal, hal lainnya ada kedisiplinan, sopan santun, semangat, kepedulian, dan takut akan Tuhan. Nah, nilai-nilai pelajaran kalian dapatkan dari sekolah, sedangkan nilai-nilai kehidupan seperti kedisiplinan, sopan santun, semangat, kepedulian akan selalu Mama ajarkan pada kalian seumur hidup Mama”

“Mama yakin, anak-anak mama adalah orang-orang pilihan yang kelak akan menjadi pemimpin yang besar. Apapun pekerjaan kalian, kalian mampu menjadi yang terbaik. Asalkan kalian selalu memberikan yang terbaik dalam setiap hal yang kalian lakukan, daaaaaaaaaan, ingat harus mau dan mampu menjalani setiap proses yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kalian dengan taat. Walau awalnya sakit, menyedihkan dan berat, kadang harus ada yang “dipangkas” agar yang lainnya dapat “tumbuh” subur. Proses kehidupan yang akan kalian jalani pasti bereda-beda, tapi kesamaannya adalah tantangan yang harus kalian hadapi karena diizinkan Tuhan terjadi di dalam kehidupan kalian. Ingat!!! Semua terjadi karena Tuhan ingin kita menghasilkan buah yang manis walaupun itu berarti kalian harus merelakan ada bagian-bagian yang Tuhan pangkas untuk menghasilkan buah manis tersebut.”

“Jadi kalau kelak, kakak merasa sakit menjalani proses kehidupan, ingat cerita Mama hari ini. Ingat “Analogi – Batang Pohon” yang mama ceritakan sore ini. Semua harus dilewati dan dijalanani dengan ikhlas. Belajar merelakan dan melepas karena dengan itu kita belajar menerima sesuatu yang baru yang labih baik. Dan selalu peka! Peka dengan sekitarmu, apapun yang ada disekelilingmu, karena sesungguhnya kamu dapat belajar banyak hal dari mereka. Dan seringkali bahasa terindah Tuhan kepadamu adalah melalui hal-hal kecil yang ada disekitarmu nak”

Mama mengakhiri cerita sambil memeluk Riris. Entah Riris paham atau tidak dengan penjelasan Mama. Namun yang jelas dia memperhatikan betul setiap detail gesture mama ketika menjelaskan sesuatu, ketika menasehatinya.

Mama betul-betul seorang ibu yang penyayang. Ibu yang tegas dalam pemikiran namun lembut dalam tindakan. Mama yang berjanji akan selalu mengajar dan mendidik ketiga anaknya agar kelak menjadi manusia terpelajar dan terdidik.

Image

 

Image

– berdasarkan kisah nyata penulis (RYS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s