Hanya yang terbaik yang Tuhan beri — sekali lagi — Hanya yang terbaik yang Tuhan beri

Hanya yang terbaik yang Tuhan beri.

Tak seharusnya kita mempertanyakan statement diatas.

Post ini sengaja penulis beri judul “Hanya yang terbaik yang Tuhan beri — sekali lagi — Hanya yang terbaik yang Tuhan beri” karena memang kalimat ini yang perlu kita ucapkan berulang-ulang sampai kita benar-benar dapat menjalani kehidupan dengan kesadaran penuh bahwa Hanya yang terbaiklah yang Tuhan beri untukmu dan untukku. Jangan perdebatkan caraNya!! Karena akal sehat kita tak akan pernah mampu menjangkau God’s Big Masterplan for human being. Cukup terima saja kenyataan indah bahwa Hanya yang terbaik yang Tuhan beri. Hidup dalam kepenuhan dan kesadaran bahwa segala yang Tuhan izinkan hadir dalam hidup kita adalah caraNya untuk memberi yang terbaik bagi Karya Ciptaan TanganNya🙂

Berikut Ilustrasi cerita yang penulis peroleh ketika mengikuti Ibadah Minggu beberapa Minggu lalu🙂 Selamat Membaca dan Menikmati alur sederhana bagaimana Kebesaran Tuhan dalam memberi yang terbaik dengan caraNya.

 

Jo hanya memiliki Ibunya di dunia ini, mereka hidup berdua dalam kondisi ekonomi yang cukup memprihatinkan. Ibu Jo sudah lama sakit dan harta yang pernah mereka miliki pun terpaksa dijual satu per satu demi memberi pengobatan bagi Ibu tercinta.

Kehidupan yang jauh dari kota membuat Jo agak kesulitan untuk mengusahakan pengobatan terbaik bagi sang Ibu selain juga memang kondisi keuangan mereka yang tak menyokong. Beberapa waktu lalu Jo sempat mendengar kabar dari tetangganya bahwa ada dokter hebat di kota yang handal dalam menyembuhkan penyakit. Namun untuk dapat mencapai kota, Jo perlu berlari +/- 8 jam atau kalau ia mau menempuh perjalanan dengan berjalan kaki maka waktu +/- 10 jam harus mampu ia hadapi. Suatu tantangan yang tak ringan bagi anak berusia 10 tahun.

Jo berpikir keras, apakah dia mampu menahan perjalanan sejauh itu? apakah aman baginya untuk meninggalkan ibunya seorang diri di rumah demi menemui dokter di kota? apakah dia harus berangkat ke kota? Dalam kebimbangan dia melihat ibunya yang terbaring lemah di tempat tidur. Hatinya yang besar tak lagi mampu membendung rasa sedih melihat kondisi ibunya yang lemah tanpa ia melakukan usaha apapun. Jo membulatkan tekad untuk berangkat ke kota, menemui dokter, dan meminta pertolongan pada dokter agar ibunya dapat pulih kembali.

Pagi-pagi benar berangkatlah Jo ke kota. Jo berlari-lari dengan mantap untuk mempersingkat waktu, karena ibu menunggunya di rumah, oleh karena itu dia harus segera sampai di kota dan segera pulang kembali ke rumah. Benar saja, 8 jam perjalanan dengan berlari mampu Jo tempuh dan sampailah ia di depan rumah dokter. Segera ia mengetuk pintu. Tak lama seorang pria paruh baya membuka pintu. Pria itu adalah dokter yang sudah tersiar kabar handal dalam mengobati setiap pasiennya. Dengan nafas tersenggal-senggal Jo berusaha tersenyum dan menyapa dokter yang berdiri di hadapannya. Dokter itu menyuruh Jo masuk, namun ia menolak dengan alasan ia harus segera pulang karena ibu menunggunya di rumah.

Segera Jo jelaskan kondisi sang ibu dan ia meminta agar dokter dapat memberi obat untuk ibunya. Hati dokter tersentuh melihat perjuangan Jo agar ibunya bisa sembuh dari penyakitnya, sehingga dengan ringan dokter memberikan obat kepada Jo secara cuma-cuma. Obat cair dalam botol kaca diberikan dokter setelah mendengar gejala penyakit yang coba dideskripsikan oleh Jo kepadanya. Betapa senang dan berterima kasihnya Jo atas kebaikan hati dokter. Segera ia minta izin untuk pulang ke rumah dengan membawa obat manjur dari dokter.

Jo kembali berlari, berlari sekencang-kencangnya menuju rumah. Kira-kira satu jam lagi mencapai rumah, Jo terantuk batu. Jo terjatuh, ia terpelanting dan obat yang baru saja ia peroleh dari dokter terlepas dari tangannya. Botol kaca itu pecah dan seluruh isinya tercecer — tak ada yang tersisa. Jo menatap botol itu dengan hati yang sedih, air matanya berlinang, dia marah, dia kesal, dia geram, dia lelah, dia menyesal, dia bingung. Jo sudah berjuang dengan sangat keras untuk mendapatkan obat itu, perjalanan panjang sudah ia tempuh, dokter juga sudah berbaik hati memberi obat secara cuma-cuma untuknya, bagaimana bisa semua itu rusak justru di saat-saat terakhir sebelum obat ini sempat diberikan pada ibunya yang sakit.

Jo kemudian berpikir untuk kembali kepada dokter, tak mungkin baginya pulang dengan tangan hampa. Walaupun ia harus mundur kembali ke kota, tekadnya bulat untuk mendapatkan obat bagi ibunya. Jo bangkit dan dengan lutut yang terluka ia paksakan berlari kembali ke arah kota. Jo akhirnya sampai kembali ke kota dan kini ia berdiri kembali di depan rumah dokter yang telah memberinya obat. Jo mengetuk pintu dan segera pintu dibukakan. Dokter membuka pintu dengan ekspresi pucat. Dokter kaget melihat Jo datang kembali. Jo menangis, ia meminta maaf pada dokter, ia ceritakan bahwa ia telah memecahkan obat yang dokter berikan sebelum ia sempat sampai ke rumah dan bertemu ibunya. Dan ia datang kembali untuk meminta dokter agar berkenan memberikan kembali obat untuk ibunya.

Respon yang diberikan dokter pada Jo diluar dugaan. Dokter justru memeluk Jo, Ia meminta maaf dan juga berterimakasih pada Jo atas semua yang telah terjadi. Jo bingung. Kemudian dokter menjelaskan bahwa obat yang dibawa oleh Jo sebelumnya ialah desinfectant yang keliru diambil oleh dokter. Ketika dokter menyadari bahwa ia salah memberi obat, dokter segera mengejar Jo namun terlambat karena Jo telah berlari dengan begiru cepat sehingga dokter kehilangan jejak Jo. Betapa merasa bersalahnya dokter dan betapa menyesalnya dokter bila obat itu sampai diberikan Jo pada ibunya. Namun dokter juga tak mampu mencegah Jo — semua seolah telah terlambat. Namun mendengar cerita Jo, dokterpun berterimakasih karena obat itu tak sempat sampai ia berikan pada ibunya. Kalau saja obat itu sampai diberikan pada Ibu Jo, maka bukan pengobatanlah yang akan diperoleh Ibu Jo.

Dokter yang semula pucat dan merasa bersalah itu segera mengambil tas yang berisi peralatan medisnya dan beberapa obat seraya mengajak Jo masuk ke dalam mobil. Mereka menyegerakan perjalanan mereka untuk menemui Ibu Jo dan memberi pengobatan yang benar dan tepat. Dokter memberi pengobatan yang intense sehingga Ibu Jo dapat pulih dari penyakitnya dan Jo sangat berterimakasih pada kebaikan hati sang dokter. Jo juga berterimakasih pada Tuhan atas semua yang terjadi. Bahkan dalam kejatuhannya, dan usahanya yang tampak sia-sia, hadiah terbaik Tuhan siapkan untuknya dan untuk ibunya.

—– The End🙂

 

Take Time To Think

Tak jarang kita marah, geram, kesal, menyesal, meratap, dan bahkan menyalahkan Tuhan ketika usaha maksimal yang telah kita lakukan seolah sia-sia. Kita jatuh tepat di titik terdekat dengan titik yang kita anggap keberhasilan. Kita sering lupa betapa terbatasnya kita. Kita mengabaikan kenyataan bahwa perencanaan-perencanaan yang telah kita buat sedemikian rupa begitu rapuh dan rentan. Tak semua rencana baik yang kita rancangkan untuk diri kita benar-banar baik untuk kita. Sangat manusiawi bila perencanaan kita tak sempurna karena pandangan kita memang terbatas, pengetahuan kita terbatas, kekuatan kita terbatas, sumber daya yang kita miliki benar-benar terbatas.

Namun apakah ini, alasan terbaik bagi kita untuk menjalani saja hidup ini seperti air yang mengalir. Tanpa perencanaan? Tanpa usaha? Tanpa daya juang? Tidak!! Itu bukan alasan!! Segala sumber daya yang kita miliki memang terbatas, namun semua itu tersedia. Semua itu Tuhan sediakan untuk kita optimalkan. Kita optimalkan untuk menjadi yang terbaik dan meraih segala hal-hal baik dalam hidup ini. Dan bila kita merasa sudah berusaha dengan maksimal namun nampaknya semua usaha sia-sia. Semua perjuangan tak kunjung bertemu dengan tujuan yang ingin dicapai.

Tenanglah.

Bijaklah.

Menengadahlah ke atas.

Lihatlah ke langit luas.

Betapa luasnya langit terbentang.

Langit ciptaan Tuhan.

Lalu tersenyumlah.

Tersenyumlah dengan hatimu.

Tersenyum walapun hatimu hancur.

Tersenyum walaupun air matamu mengalir.

Tersenyum karena kau kembali diingatkan bahwa Tuhan Maha Pengasih.

Tersenyum karena Tuhan yang Maha Pengasih itu hanya akan memberikan yang terbaik bagimu.

Hanya yang terbaik yang Tuhan beri — sekali lagi — Hanya yang terbaik yang Tuhan beri

 

🙂

 

Note:
Nama Tokoh, alur cerita, serta cara bertutur telah dimodifikasi oleh penulis 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s